RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

ISSN 2548-2246 (online)

ISSN 2442-9139 (print)

Edited by:

Paramitha Amelia K

Reviewed by:

Ririn Ariyanti

*Correspondence: Sri Dinengsih sridinengsih@civitas.unas.ac.id Received: 20 Mei 2021 Accepted: 25 Mei 2021 Published: 04 Oktober 2021 Citation : Andi Niar (2021) Faktor – faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI pada Ibu Menyusui di RSB Harifa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara .

Midwiferia Jurnal Kebidanan. 7:2. Doi :

10.21070/midwiferia.v7i2.1288

Faktor – faktor yang Memengaruhi Produksi ASI pada Ibu Menyusui di RSB Harifa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara

Factors Affecting the Production of Breast Milk Breastfeeding Mother at Harifa RSB, Kolaka District Southeast Sulawesi Province

Andi Niar1), Sri Dinengsih, Jenny Siauta

Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional Jakarta

Email : sridinengsih@civitas.unas.ac.id

ABSTRAK

Makanan pertama yang alami untuk bayi adalah ASI, ASI mengandung semua nutrisi dan energi yang sangat dibutuhkan oleh bayi pada bulan pertama kehidupan. Pada masa Post Partum masalah yang sering terjadi salah satunya adalah mengeluhkan ASI kurang, sehingga bayi kurang puas pada saat disusui, sehingga bayi menolak menyusu atau sering menangis, gagalnya pemberian ASI pada bayi sering diakibatkan payudara ibu tidak membesar Angka cakupan ASI eksklusif di Provinsi Sulawesi Tenggara baru mencapai 35,01%, dan di wilayah Kabupaten Kolaka baru mencapai 40,1%. Masalah utama pada bayi usia 0-23 bulan belum/tidak pernah disusui adalah karena ASI tidak keluar dan ASI tidak cukup (65,7%). Sekitar 33,3% bayi yang berumur 0-5 bulan telah diberikan susu formula (84,5%). Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor – factor yang mempengaruhi produksi ASI pada ibu menyusui di RSB Harifa Kabupaten Kolaka. Sampel pada penelitian ini adalah ibu menyusui berjumlah 100 orang. Desain penelitian ini adalah studi analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Hasil penelitian didapatkan, ada hubungan yang signifikan antara pola makan (p value = 0,021), pola istirahat (p value = 0,009), dukungan suami (p value = 0,005), teknik menyusui (p value = 0,021) penggunaan ASI Booster (p value = 0,025) dengan produksi ASI.Keluaran dari penelitian ini diharapkan bidan dapat menggali faktor yang dapat menjadi penyebab terganggunya produksi ASI dan dapat memberikan konseling yang tepat pada ibu dan keluarga.

Kata kunci : Produksi ASI, Ibu Menyusui

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://journal.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

10 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

ABSTRACT

The first natural food for babies is breast milk, breast milk contains all the nutrients and energy that babies need in the first month of life. During the Post Partum period, problems that often occur, one of which is complaining of insufficient breast milk, so that the baby is not satisfied when breastfeeding, so that the baby refuses to breastfeed or cries often, the failure of breastfeeding to the baby is often caused by the mother's breasts not getting bigger The coverage rate of exclusive breastfeeding in Southeast Sulawesi Province only reached 35.01%, and in the Kolaka Regency area it only reached 40.1%. The main problem in infants aged 0-23 months who have not/never been breastfed is because breast milk does not come out and there is not enough milk (65.7%). About 33.3% of infants aged 0-5 months had been given formula milk

(84.5%). The purpose of the study was to determine the factors that influence the production of breast milk in nursing mothers at Harifa Hospital, Kolaka Regency. The sample in this study were 100 breastfeeding mothers. The research design is a quantitative analytic study with a Cross Sectional approach. The results showed that there was a significant relationship between eating patterns (p value = 0.021), rest patterns (p value = 0.009), husband's support (p value = 0.005), breastfeeding techniques (p value = 0.021) the use of ASI Booster (p value = 0.025) with breast milk production. The output of this study is expected to be able to explore the factors that cause the disruption of breast milk production and provide appropriate counseling to mothers and families.

Keywords : Breastfeeding Production, Breastfeeding Mother

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

11 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

1. PENDAHULUAN

ASI adalah makanan pertama yang alami untuk bayi. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan. Menyusui adalah cara yang sangat baik dalam menyediakan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, World Health

Organization (WHO) merekomendasikan sebaiknya bayi hanya disusui air susu ibu (ASI) selama paling sedikit 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berumur dua tahun (WHO, 2018).

WHO dalam laporannya menyatakan, tercatat secara global rata-rata angka pemberian ASI eksklusif di dunia pada tahun 2017 hanya sebesar 38%, WHO menargetkan pada tahun 2025 angka pemberian ASI eksklusif pada usia 6 bulan pertama kelahiran meningkat setidaknya 50%. Di Indonesia Kementerian Kesehatan menargetkan peningkatan target pemberian ASI ekslusif hingga 80%, namun pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih di bawah target. Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia, bayi yang mendapat ASI eksklusif tahun 2018 yaitu sebesar 68,74% (Kemenkes RI, 2019). Pada tahun 2019 angka ASI eksklusif mengalami

peningkatan menjadi 74,5% (Balitbangkes, 2019).

Propinsi Sulawesi Tenggara termasuk dalam wilayah yang capaian ASI eksklusif masih cukup rendah yaitu 35,01% (Kemenkes, 2019). Di Kabupaten Kolaka yang merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara angka ASI eksklusifnya baru mencapai 40,1%. (Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2019). Hasil Riskesdas 2018 mengungkap bahwa alasan utama anak 0-23 bulan belum/tidak pernah disusui adalah karena ASI tidak keluar dan ASI tidak cukup (65,7%). Sehingga 33,3% bayi yang berumur 0-5 bulan telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak adalah susu formula (84,5%).

Rendahnya cakupan ASI eksklusif memberikan dampak terutama pada kesehatan bayi. Pada penelitian yang dimuat dalam European Respiratory Journal menyebutkan anak-anak yang tidak pernah disusui memiliki resiko penyakit gangguan pernapasan dan pencernaan pada empat tahun pertama kehidupannya dibanding dengan bayi yang mendapat ASI selama 6 bulan atau lebih, dan pemberian ASI yang tidak eksklusif memberikan kontribusi sebanyak 11,6% dalam mortalitas anak dibawah usia 5 tahun (Maryunani, 2015). Menurut hasil penelitian Sastria et al, 2019

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

12 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif sangat mempengaruhi 30,1% pencegahan risiko kejadian stunting pada balita, sehingga cakupan gizi pada balita bisa terpenuhi Masalah menyusui pada masa pasca persalinan salah satunya adalah sindrom ASI kurang, sehingga bayi merasa tidak puas set iap setelah menyusu, bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu, payudara tidak membesar yang mengakibatkan gagalnya pemberian ASI pada bayi. Produksi ASI yang rendah diantaranya karena kurang sering menyusui atau memerah payudara; teknik perlekatan yang salah; kelainan endokrin ibu (jarang terjadi); jaringan payudara hipoplastik; kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI dan kurangnya gizi ibu (Mufdillah et al. 2017). Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2013) tanda bahwa bayi cukup dalam mendapatkan ASI salah satunya adalah dengan melihat frekuensi BAK bayi yaitu sebanyak > 6 kali sehari dengan urin berwarna jernih, semakin banyak frekuensi BAK pada bayi, menandakan bahwa kebutuhan nutrisi bayi sudah terpenuhi dan berat badan tidak turun lagi setelah hari ke sepuluh.

Hasil penelitian Saraung (2017) dan Rusyantia (2017) menunjukkan, faktor-faktor yang dapat meningkatkan produksi ASI adalah,

asupan nutrisi, dukungan suami, istirahat, cara menyusui, penggunaan KB hormonal dan penggunaan ASI Booster. Berdasarkan studi pendahuluan di RS Bersalin Harifa Kabupaten Kolaka pada delapan ibu menyusui didapatkan informasi 50% ibu tidak memberikan ASI eksklusif karena ‘merasa’ ASI nya kurang, bayi sering menangis walaupun sudah disusui. Sebelumnya para ibu juga sudah mencoba minum tablet pelancar ASI, kemudian atas dorongan orangtua, bayi mereka diberikan susu formula.

2. METODE PENELITIAN

Desain penelitian ini adalah studi analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Teknik pengeambilan sampel menggunakan metode Accidental Sampling dengan jumlah sampel 100 ibu menyusui 14-21 hari di RSB Harifa. Data dianalisis menggunakan uji Chi square.

3.HASIL PENELITIAN

1) Analisis Univariat

Tabel 1 Produksi ASI

Produksi ASI

F

%

Cukup

86

86

Tidak Cukup

14

14

Berdasarkan tabel 1, diketahui sebagian besar ibu menyusui (86%) memiliki produksi ASI yang cukup.

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

13 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

Tabel 2 Faktor yang Memengaruhi Produksi

ASI

Pola Makan

F

%

Baik

58

58

Kurang

42

42

Pola Istirahat

F

%

Baik

55

55

Kurang

45

45

Dukungan Suami

F

%

Baik

70

70

Kurang

30

30

Teknik

F

%

Menyusui

 

 

Baik

51

51

Kurang

49

49

Penggunaan ASI

F

%

Booster

 

 

Ya

86

86

Tidak

14

14

2) Analisis Bivariat

Tabel 3 Hubungan Faktor yang Memengaruhi Produksi ASI

Variabel

Produksi ASI

P

OR

 

Cukup

Tidak

val

 

 

 

Cukup

ue

 

Pola Makan

 

 

 

 

Baik

54

4

 

 

 

(93,1%)

(6,9%)

0,02

4,219

 

 

 

1

 

 

 

 

Kurang

32

10

 

 

 

(76,2%)

(23,8%)

 

 

Dukungan

 

 

 

 

Suami

 

 

 

 

Baik

65

5

0,00

5,571

 

(92,9%)

(7,1%)

5

 

 

Kurang

21

9

 

 

(70%)

(30%)

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabel 2 diketahui sebagian besar ibu menyusui sebanyak 86 (86%) memiliki produksi ASI yang cukup, mayoritas ibu memiliki pola makan baik yaitu 58 (58%), 55 (55%) ibu menyusui memiliki pola istirahat baik, 70 (70%) memiliki dukungan suami baik, 51 (51%) memiliki teknik menyusui baik dan 86 (86%) ibu menyusui menggunakan ASI Booster.

Berdasarkan tabel 3 diketahui sebagian besar ibu dengan pola makan baik memiliki produksi ASI yang cukup 54 (93,1%), ada hubungan yang signifikan antara pola makan dengan produksi ASI, nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa ibu dengan pola makan baik berpeluang 4,219 kali untuk memiliki produksi ASI yang cukup. Mayoritas ibu dengan dukungan suami baik memiliki produksi ASI cukup 65 (92,9%), ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan produksi ASI, nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa ibu dengan dukungan suami baik berpeluang 5,571 kali untuk memiliki produksi ASI yang cukup. Sebagian besar ibu dengan pola istirahat. baik memiliki produksi ASI yang cukup 52 (94,5%), ada hubungan yang signifikan antara pola istirahat dengan produksi

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

14 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

ASI. Adapun nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa ibu dengan pola istirahat baik berpeluang 5,608 kali untuk memiliki produksi ASI yang cukup.

Mayoritas ibu dengan teknik menyusui baik 48 (94,1%) memiliki produksi ASI yang cukup, ada hubungan yang signifikan antara teknik menyusui dengan produksi ASI, nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa ibu dengan asupan nutrisi dan cairan baik berpeluang 4,219 kali untuk memiliki produksi ASI yang cukup. Sebagian besar ibu menggunakan ASI Booster memiliki produksi ASI yang cukup 77 (89,5%), ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI booster dengan produksi ASI. Adapun nilai Odd Ratio menunjukkan bahwa ibu dengan asupan nutrisi dan cairan baik berpeluang 4,219 kali untuk memiliki produksi ASI yang cukup

dibanding ibu menyusui yang tidak menggunakan ASI Booster .

4. PEMBAHASAN

Hubungan Pola Makan dengan Produksi ASI

Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan produksi ASI. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rayhana (2017) menunjukkan ada hubungan yang

signifikan antara asupan makan ibu dengan kecukupan ASI pada bayi usia 1-6 bulan. Sejalan dengan penelitian Sanima (2017) yang menyatakan ada hubungan erat antara pola makan dengan kelancaran produksi ASI.

Menurut Kristiyanasari (2010) produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan sempurna tanpa makanan yang cukup.. Menurut asumsi peneliti adalah karena makanan merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi ibu menyusui untuk mendapatkan kecukupan nutrisi bagi bayi. Ibu yang mengkonsumsi makanan yang bergizi selama menyusui maka produksi ASI akan baik.

Hubungan Dukungan Suami dengan

Produksi ASI

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan produksi ASI. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Aini et al (2015) menunjukkan hubungan yang siginifikan antara dukungan suami dengan pemberian ASI

eksklusif, selaras dengan hasil penelitian tersebut Wattimena et al (2015) menyatakan dukungan suami dengan keberhasilan isteri untuk menyusui mempunyai korelasi yang positif dan signifikan.

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

15 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

Datta et al (2012) memaparkan bahwa paternal practical and emotional support has a positive impact on initiation and duration of breastfeeding. Menurut Mercer dalam Rosamund (2011) untuk melaksanakan perannya sebagai ibu di masa awal paska persalinan membutuhkan dukungan penuh suami. Dengan adanya dukungan suami diharapkan akan membuat ibu mudah dalam pencapain peran dan menurunka stres selama masa nifas sehingga ibu termotivasi untuk memberikan ASI ekslusif pada bayinya. Menurut asumsi peneliti dimungkinkan karena kesadaran suami terhadap perannya dalam keberhasilan menyusui semakin meningkat dengan banyaknya informasi terkait peran ayah dalam proses menyusui

Hubungan Pola Istirahat dengan Produksi

ASI

Istirahat yang cukup pada masa nifas akan mempengaruhi kelancaran dari produksi ASI karena aktifitas yang tinggi akan menyebabkan ibu mengalami kelelahan dan apabila kondisi ibu lelah atau stress maka produksi ASI akan terganggu. Kurangnya istirahat dan tidur menyebabkan kurangnya jumlah produksi ASI, memerlambat proses involusi uteri dan meningkatkan risiko perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan ibu untuk merawat diri dan bayinya (Umaroh, 2011). Menurut asumsi peneliti istirahat merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi khususnya pada ibu menyusui. Kurangnya waktu istirahat pada ibu menyusui akan memicu kelelahan dan peningkatan emosi ibu sehingga dapat menimbulkan stress yang akan mengganggu produksi ASI.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola istirahat dengan produksi ASI. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rayhana dan Sufriani (2017) yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola istirahat dengan produksi ASI. Sejalan dengan penelitian Sari (2018), yang menyatakan ada hubungan yang erat antara pola istirahat dengan produksi ASI.

Hubungan Teknik Menyusui dengan

Produksi ASI

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara teknik menyusui dengan produksi ASI. Sesuai dengan hasil penelitian Rusyantia (2017), bahwa ada hubungan yang signifikan antara teknik menyusui dengan keberhasilan menyusui. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian Rinata et al (2016) terdapat hubungan yang

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

16 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

signifikan antara teknik menyusui dengan produksi ASI. Teknik menyusui merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan pengeluaran ASI secara maksimal.

Kenyamanan dalam menyusui bukan hanya terletak pada kenyamanan ibu, melainkan juga pada kenyamanan bayi yang berdampak pada pengeluaran ASI yang maksimal. Kenyamanan dan pengeluaran ASI yang maksimal ini dapat tercipta apabila ibu memiliki teknik menyusui yang baik dan merupakan kunci keberhasilan dalam menyusui (Evareny, et.al, 2010). Menurut asumsi peneliti teknik menyusui yang baik merupakan kunci awal keberhasilan menyusui, dengan posisi dan pelekatan yang benar, isapan bayi akan efektif dan memicu refleks menyusui sehingga merangsang produksi ASI.

Hubungan Penggunaan ASI Booster dengan

Produksi ASI

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan ASI Booster dengan produksi ASI. Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa penelitian yang meneliti penggunaan bahan alami sebagai ASI Booster diantaranya Johan et al (2017) menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian simplisia daun kelor dengan peningkatan produksi ASI, sejalan dengan

penelitian tersebut, Firdausi dan Qomar (2019) menyatakan ada pengaruh yang kuat antara pemberian olahan daun lembayung sebagai ASI Booster dalam meningkatkan produksi ASI.

ASI Booster memiliki kandungan zat yang bersifat laktagogue yang diyakini dapat meningkatkan produksi ASI. Laktogogue telah banyak diteliti dan digunakan untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi ASI termasuk pada keadaan prematuritas, gagal tumbuh, adopsi dan pemisahan ibu bayi karena ibu atau bayi sakit. Penggunaan ASI Booster meningkatkan kepercayaan diri ibu sehingga merangsang produksi ASI, meskipun demikian tetap harus dilakukan evaluasi terhadap teknik menyusui, pola makan dan pola istirahat terkait produksi ASI yang kurang.

5.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Dari hasil penelitian, faktor yang berhubungan erat dengan produksi ASI adalah pola istirahat (OR = 5,608) dan dukungan suami (OR = 5,571). Yang artinya bahwa dengan pola istirahat yang baik berpeluang memiliki produksi ASI yang baik sebesar 5,571

Saran

Sebaiknya bidan dapat menggali faktor yang dapat menjadi penyebab terganggunya produksi

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

17 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

ASI dan dapat memberikan konseling yang tepat

pada ibu dan keluarga.

6. REFERENSI

Balitbangkes. 2019. Determinan Faktor

Pemberian ASI Eksklusif, Kemenkes RI.

Datta, J., Graham, B., Wellings, K. The role of fathers in breastfeeding: decision-making and support. British Journal of Midwifery, 20 (3), 159-167 2012 diakses tanggal 5 desember 2020.

Deswita, Sari Tia. Faktor-Faktor Yang

Berhubungan Dengan Produksi Air Susu

Ibu (ASI) Eksklusif Pada Ibu Menyusui Di

Wilayah Kerja Puskesmas Plus

Mandiangin Kota Bukittinggi. Skripsi.

Tahun 2018.

Dewi. Ayu Devita Citra. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelancaran Produksi ASI. Jurnal Aisyiah Medika.Volume IV Nomor 2019.

Jacqueline C. Kent, Danielle K. Prime, and

Catherine P. Garbin Principles for

Maintaining or Increasing Breast Milk.

http://jognn.awhonn.org. The Association

of Women’s Health, Obstetric and

Neonatal Nurses, 2011

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2018. Jakarta : Kemenkes RI. 2019.

Kemenkes RI. 2015. Situasi dan analisis asi

eksklusif. http://kesehatan-Indonesia- 2015.pdf. Kemenkes RI. Diakses tanggal 19 Desember 2020.

Kristiyanasari, W. 2010. ASI, Menyusui, dan Sadari. Yogyakarta.: Nuha Medika.

Nainggolan, E. 2015. Hubungan dukungan suami dengan keberhasilan isteri menyusui. Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Panjaitan, Eveline. 2013. Indonesia Menyusui. Jakarta : EGC.

Prafitri et al. The Effect Of Breastfeeding Booster For Breastfeeding Mothers.... 19 DOI:

10.30591/siklus.v9i1.1406.g1076

Puskesmas Kolaka. 2020. Data KIA.

Ramadani Mery, Ella Nurlaela Hady. Dukungan Suami dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar Kota

Padang Sumatera Barat. https://www.researchgate.net/publication/ 310736922. 2010. Diakses tanggal 20 Desember 2020

Rayhana, Sufriani. 2020. Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Produksi Asi Dengan

Kecukupan ASI. Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh ; Skripsi.

Riset Kesehatan Dasar 2018. Kemenkes RI 2019.

Siregar, M.A. 2006. Pemberian ASI Ekslusif dan Faktor - Faktor yang Mempengaruhinya. http://library.usu.ac.id/download/fkmarifi n4.pdf. diakses tanggal 1 November 2020.

Simbolon, Martha Uly Agnes. Hubungan Pola Makan, Asupan Zat Gizi dan Produksi ASI Pada Ibu Menyusui Di Kelurahan Keagungan Taman Sari Jakarta Barat. Digilib Esa Unggul, 2019.

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

18 |

RESEARCH ARTICLE

Published: 04 Oktober 2021

DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1288

Umaroh, Muflihatul. Hubungan Pola Istirahat Ibu Nifas dengan Kelancaran produksi Asi BPS Ny. Lastak Anang Arief, S.ST Perum

JengalaSidoarjo2011.

http//www.academiaedu.com, diakses tanggal 2 Januari 2021.

Widayati, Cristina Nur; Yuwanti Rizki Zahara. Hubungan Frekuensi Makan dan Pola Istirahat dengan Produksi Asi pada Ibu Nifas. Jurnal Kebidanan Harapan Ibu Pekalongan.Volume 7, Nomor 2, 2020.

Widiastuti, Saraung Mitrami; Sefti Rompas;

Yolanda B. Bataha. Analisis Faktor-Faktor

Yang Berhubungan Dengan Produksi Asi

Pada Ibu Postpartum Di Puskesmas

Ranotana Weru. Universitas Sam

Ratulangi. e-Jurnal Keperawatan (e-Kp)

Volume 5 Nomor 2, Agustus 2017.

Wattimena et al. 2015. Keberhasilan Isteri untuk Menyusui. Jurnal Health Quality, 4(2), 77 - 141.

Wattimena et al. 2015. Dukungan Suami dengan Keberhasilan Isteri untuk Menyusui. Jurnal Ners LENTERA, 3(1), 10-20.

Nurliwati. Dukungan Keluarga Terhadap Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi di Kota Jambi. JMJ, 4 (1), 76-86. 2016.

WHO. Exclusive Breastfeeding For Optimal Growth, Development And Health Of Infants 2017. diakses tanggal 5 Januari 2021.

Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia

Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2

19 |