RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 85 |
Pemakaian Sabun Antiseptik dengan Kejadian Keputihan
Use of Antiseptic Soap with Vaginal Discharge
Rizki Dwi Nur Cholifah
1)
, Paramitha Amelia K
2)
, Nurul Azizah
1)
Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah
Sidoarjo
2)
Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo
Email : kikidnc@gmail.com
ISSN 2548-2246 (online)
ISSN 2442-9139 (print)
Edited by:
Paramitha Amelia K
Reviewed by:
Suyani
*Correspondence : Rizki Dwi Nur
Cholifah
kikidnc@gmail.com
Received : 10 Juni 2021
Accepted : 15 Juni 2021
Published : 04 Oktober 2021
Citation : Rizki Dwi Nur Cholifah
(2021)
Pemakaian Sabun Antiseptik
dengan Kejadian Keputihan .
Midwiferia Jurnal Kebidanan. 7:2.
Doi :
10.21070/midwiferia.v7i2.1320
ABSTRAK
Keputihan adalah keluarnya cairan selain darah dari vagina di luar kebiasaan,
baik berbau ataupun tidak. Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian
keputihan adalah pemakaian antiseptik.sabun antiseptic yang kini telah marak
di gunakan oleh remaja karena rasa ingin mencoba. Karna keputihan trkadang
remaja memilih untuk mengurangi dengan menggunakan sabun antiseptik.
Kejadian keputihan pada mahasiswi fakultas psikologi Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo sangat tinggi yaitu 80%. Tujuan penelitian untuk
mengetahui hubungan pemakaian sabun antiseptik dengan kejadian keputihan.
Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional data dan di sajikan
dalam bentuk tabulasi silang,selanjtnya di lakukan uji chi square. Sampel
diperoleh dari seluruh populasi mahasiswi semester 2 fakultas psikologi
Universitas Muhammadiyah sebanyak 30 mahasiswi.dengan kriteria inklusi
umur 18-21 tahun yang mengalami keputihan dan memakai sabun antiseptik.
Data yang digunakan adalah data primer dengan kuesioner yang disajikan
dalam bentuk table frekuensi, tabulasi silang dilakukan uji chi square untuk
mengetahui adanya hubungan. Hasil penelitian menunjukkan setengah
mahasiswi (50.0%) melakukan penggunaan sabun antiseptik dengan baik dan
sebagian besar (66,7%) mengalami keputihan fisiologis. Simpulan ada
hubungan pemakaian sabun aniseptik dengan kejadian keputihan.
Kata kunci : keputihan, pemakaian sabun antiseptic, uji Chi Square
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 86 |
ABSTRACT
Leucorrhoea is an unusual discharge other than blood from the vagina, whether it
smells or doesn't. One of the factors that influence the incidence of vaginal discharge
is the use of antiseptic. Antiseptic soap which is now widely used by teenagers
because of their desire to try. Because vaginal discharge sometimes adolescents
choose to reduce by using an antiseptic soap. The incidence of vaginal discharge in
students of the psychology faculty of the Muhammadiyah University of Sidoarjo is
very high, namely 80%. The research objective was to determine the relationship
between the use of antiseptic soap and the incidence of vaginal discharge. The
research design used a cross sectional data approach and presented in the form of
cross tabulations, then the chi square test was performed. Samples were obtained
from the entire population of students in semester 2 of the psychology faculty of
Muhammadiyah University as many as 30 female students. With the inclusion criteria
aged 18-21 years who experienced vaginal discharge and used antiseptic soap. The
data used are primary data with a questionnaire presented in the form of a frequency
table, cross tabulation is carried out by the chi square test to determine the existence
of a relationship. The results showed that half of female students (50.0%) used
antiseptic soap well and most (66.7%) experienced physiological vaginal discharge.
In conclusion, there is a relationship between the use of aniseptic soap and the
incidence of vaginal discharge.
Keywords : Antiseptic Soap, Chi Square Test, Vaginal Discharge
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 87 |
1. PENDAHULUAN
Di Indonesia sekitar 90% wanita berpotensi
mengalami keputihan karena Indonesia
merupakan daerah yang iklim tropis, sehingga
sangat mempermudah jamur berkembang
sehingga dapat mengakibatkan banyaknya kasus
keputihan ( Ali, 2011). Data survey Kesehatan
Reproduksi remaja Indonesia (SKKRI) tahun
2010 menunjukkan bahwa usia 15 24 tahun
merupakan usia yang sangat rentan mengalami
keputihan (SKKRI, 2010).
Keputihan (leukorea, white discharge, flour
albus) merupakan tanda adanya gangguan yang
tidak normal yang terjadi di dalam tubuh yang
mana bentuk keputihan ini adalah cairan
melainkan bukan darah yang keluar dari
kewanitaan. Sarwono (2016) menunjukkan tanda-
tanda adanya kelainan (Kusmiran, E, 2012).
Keputihan di bagi menjadi dua jenis yaitu
keputihan fisiologis dan patologis. Keputihan
fisiologis atau keputihan normal ini biasanya
sering terjadi ketika masa subur sebelum dan
sesudah menstruasi merupakan hal yang normal
dan biasanya tidak menyebabkan rasa gatal serta
tidak berbau. Ciri dari keputihan fisiologis adalah
cairan keputihan encer, cairan yang keluar
berwarna jernih atau bening, tidak menyebabkan
rasa gatal. Keputihan pathologi adalah keputihan
abnormal, memiliki ciri yang berbau dan warna
kuning kehijauan, serta memberikan efek gatal
dan panas di sekitar vagina (Manuaba, 2014).
Tidak di anjurkan menggunakan sabun antiseptik
setiap hari karna dapat mengganggu PH sehingga
bakteri jahat akan cepat tumbuh sehingga dapat
memberikan efek gangguan reproduksi. Baird,
dkk dalam American Journal Of Public Health
menyebutkan bahwa penggunaan sabun
antiseptik dapat memperbesar resiko infeksi pada
vagina, karena pembersih tersebut akan
menyebabkan bakteri alami yang berguna
membersihkan area vagina menjadi mati dan pH
keseimbangan pada wanita menjadi terganggu.
Faktor - faktor yang mampu mempengaruhi
terjadinya keputihan yaitu hormonal, kelelahan
fisik dan kejiwaan, serta adanya benda asing
dalam organ reproduksi (Kasdu, 2005). Menurut
Yudhim (2013) penggunaan underwear juga
berpengaruh besar dengan terjadinya keputihan.
kejadian keputihan di dunia pada wanita
mencapai angka 75% wanita di dunia ini, untuk di
Eropa sebanyak 25% penduduk perempuannya
rentan mengalami keputihan. Di Negara kita
sendiri yaitu Negara Indonesia sudah mencapai
angka 75% dari penduduk wanitanya menglami
keputihan dan sebanyak 45% wanita bahkan
mengalami keputihan sebanyak dua kali atau
bahkan lebih dalam seumur hidup (BKKBN,
2009).
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 88 |
Cairan pembersih vagina umumnya
mengandung banyak bahan kimia yang dapat
merusak kulit dan lingkungan. Penggunaan
antiseptic dijual dipasaran justru akan sangat
mengganggu ekosistem di dalam vagina, terutama
pH dan kehidupan bakteri baik. Jika pH terganggu
maka bakteri jahat akan sangat mudah
berkembang cukup banyak dan mengakibatkan
vagina akan mengalami suatu penyakit yang
merupakan salah satunya ditandai dengan
terjadinya keputihan
Dari hasil studi pendahuluan dengan cara
melakukan wawancara pada mahasiswi fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah sidoarjo
pada bulan Mei 2020 didapatkan bahwa dari 10
mahasiswi terdapat 8 mahasiswi (80%)
mengalami keputihan dan 2 mahasiswi (20%)
tidak mengalami keputihan. Keputihan yang
fisiologis apabila kebiasaan perilaku pemakaian
sabun antiseptic yang kurang baik maka
berpotensi menjadi keputihan yang pathologi.
Dengan menggunakan sabun antiseptic yang
salah maka dapat memberikan efek yang serius
terjadi pada vagina.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah
untuk diketahuinya hubungan pemakasian sabun
antiseptic dengan kejadian keputihan.
2. METODE PENELITIAN
Metode merupakan metode atau cara yang
akan di gunakan dalam penelitian
(Notoatmodjo,2012). Desain penelitian ini
termasuk penelitian deskriptif dengan
menggunakan pendekatan Cross Sectional.
Populasi dalam penelitian ini seluruh mahasiswi
semester 2 Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo dengan kriteria inklusi
bersedia mengisi kuesioner dengan usia 18-21
tahun, menggunakan sabun antiseptik. Kriteria
inklusi adalah seluruh mahasiswi semester 2
Fakultas Psikologi yang mengalami keputihan
dan memakai sabun antiseptic. Waktu
penelitiannya bulan 5 mei 2020 dengan
mebagikan google form. Setelah di lakukan
pengambilan rumus pengambilan ampel di
dapatkan 23 mahasiswi dari 30 mahasiswai secara
system simple random sampling.
Instrument penelitian ini menggunakan
kuesioner. Kuesioner tertutup yaitu suatu
pengumpulan data terhadap suatu masalah dengan
cara menyebarkan beberapa pertanyaan ke
resonden. Data yang terkumpul di lakukan
rekapitulasi data dan di sajikan dalam bentuk
table frekuensi dan table silang. Analisis data di
lakukan dengan uji chi square dengan
menggunakan tingkat kemaknaan alpha 0,05%.
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 89 |
Pengumpulan data menggunakan alat bantu
kuesioner penelitian yang di jadikan google form
dan disebar melalui online.
3. HASIL PENELITIAN
1. Data Umum
Umur
Dilihat dari tingkatan umur remaja putri, maka
pengumpulan data akan disajikan dengan
menggunakan tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Distribusi Umur
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa
separuh remaja putri berusia 20 tahun yaitu
sebanyak 20 remaja putri (58,6%).
2. Data Khusus
Pemakaian Sabun Antiseptik
Untuk mengidentiikasi pemakaian saun
antiseptik, maka akan di tampilkan dengan tabel 2
berikut ini :
Tabel 2. Perilaku Pemakaian Sabun
Antiseptik
Menurut tabel 2 mengartikan hampir setengah
remaja putri menggunakan sabun anti septik
dengan baik sebanyak 15 remja putri (50%).
Keputihan
Distribusi kejadian keputihan disajikan pada tabel
3 berikut ini :
Tabel 3. Kejadian Keputihan
Kejadian
Keputihan
Jumlah
Percent
Fisiologi
20
66,7
Pathologi
10
33,3
Total
30
100
Menurut tabel 3 menunjukkan sebagian besar
remaja putri mengalami keputihan fisiologis
sebanyak 20 remaja putri (66.7%).
Tabulasi Silang Pemakaian Sabun Antiseptik
Dengan Keputihan
Tabel 4 Tabulasi Silang Pemakaian Sabun
Antiseptik Dengan Kejadian Keputihan
Remaja Putri
Chi square = P = 0.002
Berdasarkan tabel 4 menunjukkan hampir
seluruhnya kejadian keputihan fisiologis pada
remaja putri yang melakukan penggunaan
Umur
Jumlah
Percent
19
7
23,3
20
17
56,7
21
6
20,0
Total
30
100%
Perilaku
Percent
Baik
50,0
Kurang baik
50,0
Total
1.00%
Perilaku
Penggunaan
Antiseptik
Keputihan
Total
Fisiologi
Pathologi
N
%
N
%
N
%
Baik
14
93,3
1
6,7
15
100
Kurang Baik
6
40
9
60
15
100
Total
20
66,7
10
33,3
30
100
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 90 |
antiseptic dengan baik sebesar 14 (93,3%),
sedangkan keputihan pathologis hampir setengah
terjadi pada remaja putri yang melakukan
penggunan antiseptik kurang baik yaitu sebesar 9
remaja putri (60.0%).
Setelah di lkukan perhitungan dengan uji chi
square di dapatkan hasil P = 002 atau P value =
0.002< alpha 0.05 maka HO di tolak artinya ada
hubungan perilaku pemakaian sabun antiseptik
dengan kejadian keputihan pada remaja putri.
4. PEMBAHASAN
Kejadian Keputihan
Berdasarkan hasil penelitian pada table 4
bahwa sebagian besar remaja putri mengalami
keputihan fisiologis sebanyak 20 remaja putri
(66,7%). Hal ini memang normal terjadi pada
remaja disebabkan karna perubahan hormon yang
terjadi pada remaja sehingga pengeluaran
semacam lendir biasanya keluar saat sebelum dan
sesudah haid, stress dan kelelahan fisik.
Pernyataan tersebut sesuai dukungan teori
Manuaba dkk (2014), yaitu cairan dari liang
vagina selain darah yang sifatnya encer, tidak
berbau dan tidak menimbulkan rasa gatal
merupakan ciri dari keputihan fisiologis. Hasil
penelitian Agustiyani D dan Suryani di
Yogyakarta menemukan bahwa remaja yang
tingkat stress nya sedang bahkan tinggi lebih
muda terjadi keputihan.
Hubungan pemakaian Sabun Antisptik
Dengan Kejadian Keputihan
Menurut hasil uji chi square terdapat
hubungan penggunaan sabun antiseptik dengan
kejadian keputihan. Hasil penelitian ini juga
sejalan dengan penelitian yang di lakukan olehh
Triyani yang menyimpulkan bahwa kejadian
keputihan banyak di pengaruhi oleh pemekaian
pembersih vagina.
Memakai sabun antiseptik memiliki
pengaruh besar pada gangguan seperti keputihan.
Pada penelitian ini kejadian keputihan patologis
hampir setengah di alami oleh mahasiswi yang
memakai sabun antiseptik kurang baik. Hasil
penelitian ini juga sesuai dengan Mayaningtiyas
penggunaan cairan pembersih organ kewanitaan
menyimpulkan bahwa ada hubungan pemakaian
antiseptik dengan kejadian keputihan.
Hal ini sesui dengan teori (Manan, 2011).
Penggunaan antiseptik yang berlebihan ini
menyebabkan populasi bakteri di daerah vagina
ikut mati, Bila bakteri mati, jamur akan tumbuh
subur. Kebiasaan menggunakaan produk
pembersih kewanitaan yang umumnya bersifat
alkalis juga menurunkan keasaman vagina.
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 91 |
5. KESIMPULAN
5.1 Setengah remaja putri memakai sabun
antiseptic dengan baik.
5.2 Sebagian besar remaja putri mengalami
keputihan fisiologis.
5.3 Ada hubungan pemakaian sabun antiseptik
dengan kejadian keputihan pada remaja
putri.
6. REFERENSI
Buku
Jayakusuma, M. (2012). asuhan kebidanan
patologi. In PT. indah jaya (Vol. 3).
Kusmiran. (2014). Kesehatan Reproduksi dan
Wanita. In Экономика Региона.
Manan, El. 2011. Miss V. Yogyakarta : Buku
Biru.
Manuaba, I. (2010). Memahami Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan.
Manuaba, I. (2014). Penyakit Kandungan dan KB
Untuk Pendidikan Bidan. In Ilmu
Kebidanan.
https://doi.org/10.1039/B9PY00221A.
Nursalam. (2015). Metodelogi penelitian
keperawatan. Pendekatan Praktis.Jakarta:
Salemba Medika.
Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kebidanan
Sarwono Prawirohardjo. In Edisi Ke-4.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
https://doi.org/10.1017/CBO97811074153
24.004
S. Notoadmodjo. (2012). PENDIDIKAN DAN
PERILAKU KESEHATAN. JAKARTA:
PT Rineka Cipta (2012). Metodologi
Penelitian Kesehatan.
Jurnal
Adawiyah, K. D. (2015). Hubungan
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Kesehatan Reproduksi Dengan Kejadian
Keputihan (Fluor Albus ) Pada Siswi SMA
Se-Derajat.
Candrawati, H. A. J. W. E. (2018). Hubungan
Perilaku Vaginal Hygiene Dengan Kejadian
Keputihan Pada Mahasiswi Di Asrama putri
PSIK Unitri Malang. Nursing News, 1, 358
368.
Dan, P., Keputihan, P., & Pada, P. (2012). Faktor-
faktor..., Emi Badaryati, FKM UI, 2012.
Ii, B. A. B. (2012). flour albus. 2009.
Ii, B. A. B., & Keputihan, A. (2003). fluor albus
,. 726.
Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2014). Universitas
Sumatera Utara.
Johar, W. E., Rejeki, S., & Khayati, N. (2013).
Persepsi dan Upaya Pencegahan Keputihan
pada Remaja Putri di SMA Muhammadiyah
1 Semarang. JKMat (Jurnal Keperawatan
Maternitas), 1, 3745.
Johar, W. E., Rejeki, S., & Khayati, N. (2013).
Persepsi dan Upaya Pencegahan Keputihan
pada Remaja Putri di SMA Muhammadiyah
1 Semarang. JKMat (Jurnal Keperawatan
Maternitas), 1, 3745.
Kudus, M. (n.d.). Hubungan perilaku. 6, 815.
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 Oktober 2021
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1320
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia Oktober 2021 | Volume 7 | Issue 2 92 |
Kurnia, W., & Az, S. (n.d.). NASKAH
PUBLIKASI Disusun Oleh: Ns. Winna
Kurnia Sari. AZ., S. Kep., M. Kes
UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI.
Oriza, N., & Yulianty, R. (2018). Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Keputihan
Pada Remaja Putri di SMA Darussalam
Medan. Jurnal Bidan Komunitas, 1 (3),
142.https://doi.org/10.33085/jbk.v1i3.3954
.
Pratiwi Maudhyta, T., Sabilu, Yu., & Fachlevy
Faizal, A. (2017). Hubungan Pengetahuan,
Stres, Penggunaan Antiseptik Dan
Penggunaan Pembalut Dengan Kejadian
FluorAlbus Pada Remaja Siswi SMA Negri
8 Kendari Tahun 2017. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat.
Program, D., Kebidanan, S., Malahayati, U.,
Fakultas, D., Masyarakat, K., Malahayati,
U., Studi, P., Universitas, K., & Lampung,
M. B. (2015). 1.) Dosen Program Studi
Kebidanan Universitas Malahayati B.
Lampung 2.) Dosen Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Malahayati B.
Lampung 3.) Program Studi Kebidanan
Universitas Malahayati B. Lampung. 1(3),
131134.
Qiao, D., Cui, P., & Cui, H. (2007). Target
selection and accessibility for rendezvous
with a Near-Earth asteroid mission. Earth,
Moon and Planets, 100(34), 137156.
https://doi.org/10.1007/s11038-006-9134-
2.
Ramayanti, A. (2017). Hubungan Personal
Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada
Remaja Putri Di SMA Muhammadiyah 5
Yogyakarta. Naskah Publikasi, 1(1), 111.
Sari, P. M. (2016). Hubungan Antara
Pengetahuan Dan Sikap Remaja Dengan
Kejadian Fluor Albus Remaja Putri Smkf X
Kediri. Jurnal Wiyata, Vol. 3(No. 1), 14.
Tristanti, I. (2013). Hubungan perilaku personal
hygiene genital dengan kejadian keputihan.
6, 815.
Usia, W., Wus, S., & Rt, D. I. (n.d.).
KELURAHAN ROWOSARI SEMARANG
THE RELATED FACTORS TO
LEUCORHEA OF FERTILE WOMEN IN
NEIGHBORHOOD UNIT ( RT ) 04
COMMUNITY UNITS ( RW ) 03 OF
ROWOSARI SUB DISTRICT OF
SEMARANG Program Studi Diploma III
Kebidanan Fakultas Ilmu Keperawatan dan
Kesehatan Univers. 27.