RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 33 |
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dan Sunbhating terhadap
Penurunan Ikterus Fisiologis pada Neonatus di Mombykids
Jombang
Relationship of Early Breastfeeding and Sunbhating Initiation to
Physiological Jaundice Decreased on Neonates in Mombykids
Jombang
Zeny Fatmawati
1)
, Baroroh Barir
2)
, Dhita Yuniar Kristianingrum
1)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang
2)
Sekolah Tinggi Insan Cendekia Medika Jombang
Email : zenyjoe123@gmail.com
ISSN 2548-2246 (online)
ISSN 2442-9139 (print)
Edited by :
Iid Putri Zulaida
Reviewed by :
Ririn Ariyanti
*Correspondence : Zeny
Fatmawati
Zenyjoe123@gmail.com
Received : 05 Oktober 2021
Accepted : 10 Oktober 2021
Published : 04 April 2022
Citation : Zeny Fatmawati
(2022)
Hubungan Inisiasi Menyusu
Dini dan Sunbhating terhadap
Penurunan Ikterus Fisiologis
pada Neonatus di Mombykids
Jombang .
Midwiferia Jurnal Kebidanan.
8 : 1.
Doi :
10.21070/midwiferia.v8i1.1638
ABSTRAK
Bayi baru lahir rentan terjadi icterus secara fisiologis yang ditandai dengan mukosa
dan kulit bayi yang berwarna kuning dikarenakan deposisi katabolisme heme yaitu
bilirubin. Berbagai pencegahan dapat dilakuakan untuk mencegah ikterus bayi baru
lahir menjadi Hiperblirubinemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
hubungan penurunantanda ikterus fisiologis pada neonatus. Desain Penelitian
observasional analitik, sampel semua bayi lahir yang di Momby Kids Bulan November
2019 Maret 2020 sebanyak 60 bayi, tehnik sampling secara purposive, instrument
yang digunakan lembar observasional dan dilakukan analisa fisher’s exact test. Inisiasi
menyusu dini dilakukan selama satu jam sebanyak 75%, Sunbhating dilakukan selama
15-30 pada pagi hari menit sebanyak 80%, penurunan tanda ikterus fisiologis sebanyak
80%, ada hubungan antara Inisiasi menyusu dini, sunbhating dengan penurunan tanda
ikterus fisiologis pada masa neonatus dengan nilai fisher’s exact test p=0,000
α=0,05. Edukasi pada ibu bersalin dan menyusui akan pentingnya upaya pencegahan
terjadinya ikterus pada masa neonatus tentang manfaat pemberian inisiasi menyusui
dini yaitu memberikan kesempatan pada bayi baru lahir untuk segera mendapatkan air
susu ibu berupa kolustrum dan melakukan penjemuran neonatus di bawah sinar
matahari pagi selama 15- 30 menit.
Kata kunci : IMD, ASI, sunbhating, penurunan ikterus fisiologis
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 34 |
ABSTRACT
Newborns are prone to physiologic icterus characterized by yellow mucosa and baby's
skin due to deposition of heme catabolism, bilirubin. Various prevention can be done
to prevent jaundice of newborns to become hyperblirubinemia. The purpose of this
study was to analyze the relationship between the reduction in physiologic jaundice in
neonates. Analytic observational research design, samples of all babies born in
Mombykids Jombang in November 2019 -March 2020 were 60 babies, purposive
sampling technique, instruments used were observational sheets and fisher's exact test
was analyzed. Early breastfeeding initiation done for one hour y 75%, sunbhating done
for 15-30 in the morning minutes as much as 80%, decreased physiological signs of
jaundice as much as 80%, there is a relationship between early breastfeeding initiation,
sunbhating with decreased physiological signs of jaundice during neonates with
fisher's exact test p = 0,000 α = 0.05. Educating mothers and breastfeeding on the
importance of prevention of jaundice during neonates about the benefits of giving early
breastfeeding initiation, namely providing the opportunity for newborns to immediately
get breast milk in the form of collustrum and do neonatal drying in the morning sun for
15- 30 minutes.
milk, and maternal health conditions based on the last 2-year empirical study.
Keywords : IMD, breastmilk, sunbhating, decreased physiological jaundice
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 35 |
1. PENDAHULUAN
Fenomena klinis yang sering terjadi pada
bayi baru lahir yang terjadi sebagai akibat
tingginya kadar eritrosit, masa hidup eritrosit,
yang lebih pendek dan belum matangnya fungsi
hepar dikenal dengan ikterus. Kematian
perinatal di minggu pertama sering disebabkan
karena komplikasi kehamilan dan persalinan
salah satunya adalah ikterus neonatorum, 73%
kematian neonatus di dunia terjadi akibat
adanya produksi bilirubin yang berlebihan, di
Indonesia 85% bayi baru lahir fisiologis
memiliki kadar bilirubin ≥ 5 gram / dl dan 13
gram / dl sebanyak 23,8%. Ikterus adalah warna
kuning yang tampak pada kulit dan mukosa
karena peningkatan bilirubin. Ikterus mulai
tampak pada kadar bilirubin serum 5 mg/Dl
(Fortuna, 2018).
Ikterus Fisiologis ditandai dengan
munculnya warna kuning pada kulit bayi yang
timbul pada hari kedua dan ketiga setelah bayi
lahir dan menghilang pada hari keenam sampai
delapan tetapi ada juga yang menghilang
sampai hari ke empat belas (Kosim, 2012).
Peningkatan kadar bilirubin di dalam
jaringan ekstra vaskuler yang menyebabkan
mukosa, kulit dan konjungtiva menjadi kuning
sangat berbahaya yang dapat mengakibatkan
mortalitas pada masa neonatus. Pemberian ASI
secara dini, frekuensi pemberian ASI secara
eksklusif dan Sunbhating adalah beberapa cara
untuk mencegah dan menurunkan ikterus
fisiologis menjadi patologis.
Inisiasi menyusu dini (IMD) merupakan
metode bayi secara aktif menemukan putting
ibunya setelah persalinan. Metode ini banyak
manfaat jangka panjang pada proses menyusui
maupun pada kesehatan bayi. UNICEF bahkan
pernah menyebut IMD sebagai vaksin pertama
bayi (IDAI, 2013). Inisiasi menyusu dini dapat
dilakukan segera setelah lahir dan diputuskan
tidak memerlukan resusitasi. Bayi kemudian
diletakkan di atas perut ibu dalam kondisi
tengkurap (IDAI, 2013).
Teknik inisiasi menyusu dini dilakukan
dengan meletakkan bayi dalam posisi
tengkurap diantara perut dan dada ibu, sehingga
terjadi kontak kulit dengan kulit. Tangan bayi
yang tidak dibersihkan diletakkan di arah kedua
putting, kepala bayi diarahkan kea rah kepala
ibu. Bayi dibiarkan bergerak sendiri mencari
putting ibu. IMD dinyatakan berhasil jika bayi
dapat menghisap putting. Bayi yang lahir cukup
bulan dan sehat, biasanya sudah dapat
mencapai putting setelah 27-71 menit (WHO,
2017).
Studi pendahuluan dari 10 ibu bersalin di
MombyKids Jombang pertolongan persalinan
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 36 |
secara normal dilakukan Inisiasi menyusu dini
sebanyak 7 orang dan dan semua diberi edukasi
untuk diberikan ASI secara eksklusif selama
observasi dan disarankan untuk melakukan
sunbathing atau menjemur bayi pada pagi hari
selama 15-30 menit pada jam 06.3007.00
WIB. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisa pengaruh IMD, ASI eksklusif dan
sunbhating terhadap penurunan ikterus
fisiologis pada neonatus.
2. METODE
a. Analisis Univariat
Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik Penelitian
N
%
Jenis Kelamin
Laki-laki
20
43
Perempuan
40
67
Durasi IMD
IMD I jam
45
75
IMD ˂ 1 jam
15
25
Frekuensi Menyusui
˂ 12x
35
58
≥ 12
25
42
Durasi Sunbhating
Sunbhating 15 - 30 menit
48
80
Sunbhating ≤ 15 – 30 menit
12
20
Jenis Ikterus
Ikterus fisiologis menetap
18
30
Ikterus fisiologis berkurang
42
70
Sumber : Data Primer 2020
Tabel 1 menunjukkan karakeristik subjek
penelitian sebagian besar bayi berjenis kelamin
perempuan sebanyak 67%, Inisiasi menyusu
dini hampir dilakukan segera setelah bayi lahir
dan di lakukan selama satu jam sebanyak 75%,
Frekuensi pemberian asi masih belum 12x
dalam sehari sebanyak 58%, bayi baru lahir
dilakukan penjemuran sinar matahari yang
dilakukan sekitar jam 06.30-07.00 wib dengan
lama penyinaran 15-30 menit sebanyak 80%.
b. Analisis Bivariat
Tabel 2 Analisis Hubungan Inisiasi menyusu
dini dengan penurunan tanda Ikterus
Fisiologis pada neonatus
Inisiasi
Menyusu
dini
Tanda Ikterus
Fisiologis
Total
Menetap
I jam
3
45
˂ I jam
15
15
18
60
Uji statistik fisher’s exact test p=0,000 α=0,05
Sumber : Data Primer 2020
Tabel 2 menunjukkan adanya hubungan
secara stastistik significant antara inisiasi
menyusu dini yang dilakukan segera setelah
bayi lahir selama satu jam dengan penurunan
tanda ikterus fisiologis pada neonatus dengan
nilai p=0,000
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 37 |
Tabel 3 Analisis hubungan Sunbhating
dengan penurunan tanda Ikterus Fisiologis
pada neonatus
Sunbhating
Tanda Ikterus
Fisiologis
Total
Menetap
15-30 menit
6
48
≤ 15 – 30
menit
12
12
18
60
Uji statistik fisher’s exact test p=0,000 α=0,05
Tabel 3 menunjukkan adanya hubungan
antara sunbhating yang dilakukan selama 15-30
menit pada masa neonatus secara significant
dapat menurunkan tanda ikterus fisiologis pada
bayi.
3. PEMBAHASAN
Pengaruh IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
terhadap penurunan Ikterus Fisiologis
IMD merupakan bayi mulai
menyusu sendiri segera lahir. Metode bayi
melakukan IMD disebut the breast
crawl atau metode merangkak sambil
mencari payudara. Neonatal yang diberi
keleluasaan menyusu sesegera mungkin,
dengan meletakkan neonatal sampai
terjadi persentuhan antar kulit bayi ke
kulit ibu seminimal mungkin selama 1
(satu) jam meningkatkan keberhasilan
menyusu secara eksklusif (Roesli, 2012).
Inisiasi menyusu dini memiliki manfaat
penting untuk bayi diantaranya adalah di saat
neonatal dapat menyusu dini setelah
lahir, sehingga kolostrum semakin cepat
keluar dan neonatal akan lebih cepat
memperoleh kolostrum, kolostrum ialah
cairan pertama yang keluar dari payudara
ibu yang kaya akan kekebalan tubuh dan
sangat berguna bagi pelindung / kekebalan akan
adanya infeksi, penting untuk
pertumbuhan, bahkan kontinuitas hidup
bayi (Nunung, 2019).
Manfaat dilakukannya IMD ialah
seminimal mungkin terjadinya persentuhan
antar kulit bayi dan ibu. Manfaat
persentuhan kulit pada saat dilakukannya
metode IMD terhadap bayi, antara lain
memaksimalkan kondisi hormonal neonatal
dan ibu, mendukung keterampilan neonatal
untuk menyusu yang lebih efektif dan
cepat,tidak sering menangis selama satu
jampertama dari kelahiran, meningkatkan
ikatan ibu dan bayi, menjaga migrasi
kumanyang aman dari ibu di dalam perut
bayi,sehingga memperoleh perlindungan
terhadap munculnya infeksi, bilirubin akan
semakin cepat mengalami kenormalan dan
cepatnya pengeluaran mekonium sehingga
terjadi penurunan kejadian ikterus pada bayi
yang baru lahir. Ikterus neonatorum merupakan
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 38 |
masalah yang sering dijumpai pada bayi baru
lahir, yaitu munculnya warna kuning pada kulit
dan sclera karena terjadinya hiperbilirubinemia
(Roesli, 2012).
Hiperbilirubinemia bayi baru lahir
merupakan fenomena biologis akibat tingginya
produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin
selama masa transisi pada neonatus. Banyak
bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi
dengan berat lahir <2500 gram atau usia gestasi
<37 minggu) mengalami ikterus pada minggu
pertama kehidupannya. Bayi lahir cukup bulan
mempunyai risiko terjadi ikterus neonatorum
mencapai 60% dan peningkatan risiko terjadi
pada bayi lahir prematur (80%).
Penyebab dari ikterus neonatorum pada
bayi baru lahir di antaranya disebabkan oleh
adanya gangguan pada produksi bilirubin yang
berlebihan dari kemampuan bayi untuk
mengeluarkannya, gangguan dalam proses
uptake dan konjugasi yang disebabkan oleh
imaturitas hepar, gangguan dalam transportasi
bilirubin dalam darah yang terikat oleh
albumin, gangguan dalam sekresi, adanya
obstruksi saluran pencernaan (fungsional atau
struktural) dan ikterus yang diakibatkan oleh
ASI.
Pemberian ASI secara dini yang dilakukan
segeara setelah bayi lahir selama satu jam
merupakan salah satu tindakan efektif untuk
mencegah terjadinya ikterus neonatorum yang
dapat terjadi secara fisiologis, inisiasi menyusu
dini membantu bayi baru lahir untuk
mengeluarkan meconium, adapun bayi yang
mengalami keterlambatan dalam pengeluaran
meconium berisiko terjadinya ikterus fisiologis
(Nunung, 2019).
The Breast Crowl atau metode merangkak
sambil mencari payudara ibu dengan cara
meletakan bayi diatas perut ibu segera setelah
bayi lahir secara skin to skin atara kulit bayi dan
kulit ibu selama satu jam meningkatkan
keberhasilan asi eksklusif, Inisiasi menyusu
dini memberikan manfaat pengeluaran
kolostrun sesegera mungkin yang berfungsi
memberikan imun atau kekebalan kepada bayi
baru lahir agar tidak rentan terinfeksi
(Maryunani, 2012).
Kolostrum adalah cairan berwarna kuning
yang keluar pertama dari payudara yang kaya
akan kekebalan sehingga dapat menjadi
proteksi dari infeksi, kontinuitas dan
Pertumbuhan pada masa neonatus.
Kolostrummengandung sel darah putih dan
antibodi yang paling tinggi, kandungan
Imunoglobulin A (Ig A) berfungsi melindungi
usus bayi yang masih rentan untuk terinfeksi
serta mencegah bayi untuk terjadi alergi
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 39 |
makanan. Persentuhan skin to skin antara ibu
dan bayi memberikan optimalisassi kondisi
hormonal neonatal dan ibu, melatih bayi
menyusu secara efektif, dan menjadikan
kehangatan, kenyamanan serta ketenangan bayi
selama satu jam pertama, meningkatkan
bounding attachment atara ibu dan bayi,
menjaga migrasi kuman yang aman dari ibu ke
perut bayi sehingga bisa mendapatkan
perlindungan terhadap munculnya infeksi,
mencegah terjadinya hiperbilirubinemia
melalui pengeluaran mekoneum (IDAI, 2013).
Penumpukan kadar bilirubin yang
mengakibatkan timbulnya wanra kuning pada
wajah dan sclera kemudian meluas secara
sefalokaudal kearah dada, perut dan ekstremitas
tangan dan kaki, pada ikterus fisiologis
bilirubin terkonjugasi dan bayi dalam keadaan
umum yang baik yang timbul pada hari kedua
dan ketiga serta menghilang pada hari ke enam
dan kedelapan atau bahkan sampai hari ke
empat belas, total kadar bilirubin serum
maksimal 12 mg/dl.
Late feeding atau penundaan pemberian
Air susu ibu berisiko terjadinya peningkatan
angka kejadian ikterus, bayi tertunda
mendapatkan kolostrum yang baik untuk
kekebalan, kolostrum juga efektif sebagai
laxative terhadap meconium yang membantu
pengeluaran kadar bilirubin melalui
pengeluaran juga dapat merangsang
peningkatan produksi ASI dan mencegah ibu
terjadinya perdarahan paska salin.
Viabilitas bayi pada periode neonatus dini
masih sangat rentan terhadap berbagai infeksi
diakibatkan organ tubuh bayi masih belum
matur dan penting pada awal pertama
kehidupan yang sangat perpengaruh terhadap
kelangsungan tumbuh kembang bayi pada
tahap selanjutnya. Inisiasi menyusu dini
memberikan nutrisi seimbang pada bayi baru
lahir, kolostrum meningkatkan daya tahan
tubuh, meningkatkan metabolisme pencernaan,
melidungi lapisan usus bayi yang belum matur,
menurunkan resiko infeksi, Fase menjilat kulit
ibu dalam inisiasi menyusu dini memudahkan
flora normal kulit ibu masuk ke sistem
pencernaan bayi yang berperan merubah
bilirubin menjadi sterkobilin, serta sifat
purgative dan peningkatan pasase usus secara
signifikan dapat menurunkan resiko ikterus
fisiologis yang timbul pada masa neonatus.
ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi, ibu
menyuusi perlu mendapatkan dukungan dari
keluarga dan petugas kesehatan agar dapat
memberikan ASI dengan baik, fisiologi ASI di
pengaruhi oleh produksi dan proses
pengeluaran ASI yang di pengaruhi oleh
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 40 |
hormon prolactin dan oksitosin, Hormon
prolactin berkaitan dengan nutrisi ibu semaikin
berkualitas dan seimbang nutrisi yang di
konsumsi ibu semakin banyak produksi dan
berkualitas komposisi ASInya dan faktor isapan
bayi akan merangsang hormon oksitosin untuk
di sekresi sehingga terjadi kontraksi pada
mioepitel payudara sehingga ASI bisa
dikeluarkan. Air susu ibu adalah emulsi lemak
dalam larutan laktosa, protein dan garam
organik yang disekresi oleh kedua kelenjar
payudara ibu yang secara nilai gizi, imunologi
dan mencurahkan kasih sayang ASI terdiri dari
kolustrum yang keluar pertama kali berwarna
kekuningan, ASI awal yang keluar pada hari ke
empat sampai tujuh dan ASI peralihan yang di
sekresi pada minggu ketiga sampai minggu
keempat. Memompa dan seringnya menyusui
merupakan upaya untuk memperbanyak
produksi, rentang frekuensi menyusui yang
optimal adalah delapan sampai dua belas kali
dalam sehari.
Kandungan ASI membantu pergerakan
usus untuk pengeluaran meconium. Mekonium
mengandung kadar bilirubin tinggi jika tidak
dikeluarkan akan di absorbsi kembali sehingga
kadar bilirubin dalam darah akan terjadi
peningkatan sehingga penting untuk sesegera
mungkin untuk segera memberikan ASI kepada
bayi baru lahir agar bayi segera mendapatkan
kolustrum, protein dan glukosa dalam
kandungan ASI juga bermanfaat mengurangi
timbunan kadar bilirubin dan mengangkut
bilirubin bebas ke dalam hepar resiko ikterus
dihubungkan dengan kejadian kern ikterus
(ensefalopati bilirubin) pada kadar bilirubin
indirek serum yang tinggi.
Kadar bilirubin serum yang disertai dengan
kern ikterus sebagai bergantung pada etiologi
ikterus. Kern ikterus berkembang pada kadar
bilirubin yang lebih rendah pada bayi prematur.
Kekhawatiran tentang terjadinya
hiperbilirubinemia tak terkonjugasi pada
neonatus prematur adalah terjadinya kern
ikterus. Pengendapan pigmen kuning oleh
bilirubin di ganglia basalis dan hipotalamus
merupakan petunjuk terjadinya degenerasi
berat ditempat ini. Pada bayi aterm dengan
kadar bilirubin tinggi dan tanpa faktor risiko
lainnya sangat kecil kemungkinan untuk
terjadinya
kern icterus.
Pengaruh Sunbhating terhadap penurunan
ikterus Fisiologis
Ada hubungan antara sunbhating dengan
penurunan gejala ikterus fisiologis pada
neonatus dengan nilai signifikan p=0.0000.
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 41 |
Sunbhathing adalah suatu tindakan penjemuran
yang dilakukan pada bayi baru lahir selama 15-
30 menit di bawah sinar matahari pagi dengan
tujuan untuk mengurangi gejala interus
fisiologis yang biasanya terjadi pada hari ke dua
sampai delapan masa neonatus.
Bilirubin dapat menyerap sinar matahari
yang selanjutnya bilirubin dapat mudah
disekresikan. Penyerapan energi cahaya
matahari oleh bilirubin melalui fotoisomeri
mengubah bilirubin bebas yang bersifat toksik
menjadi isomer-isomernya. kandungan sinar
matahari yang dapat memberikan pengaruh
berupa penurunan tandaikterus adalah sinar
biru, yang merupakan komponen sinar
ultraviolet. Bilirubin dalam kulit akan
menyerap cahaya secara maksimal dalam batas
wilayah warna biru (mulai dari 420-470 nm).
Lumirubin serta 4Z dan 15E-bilirubin,
yang pada akhirnya akan dapat diekskresi oleh
hati dan ginjal tanpa memerlukan konjugasi
(3,11). Sinar biru yang merupakan kandungan
dalam sinar matahari tersebut dapat mengikat
bilirubin bebas di permukaan tubuh (kulit)
sehingga mengubah sifat molekul bilirubin
bebas yang semula larut dalam lemak menjadi
fotoisomer yang larut dalam air, dengan
pengubahan sifat molekul yang dilakukan sinar
biru ini pada akhirnya akan dapat mengurangi
tanda ikterus yang tampak pada bayi, sehingga
pada akhirnya bayi tersebut akan sembuh
dengan level bilirubin bebas dalam batas
normal sehingga sunbhating bisa
direkomendasikan sebagi upaya pencegahan
secara komplementer untuk menurunkan dan
mencegah terjadinya ikterus fisiologis.
tindakan menjemur bayi kuning di bawah sinar
matahari yang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu
dan juga yang dilakukan pada penelitian ini
merupakan hal yang bermanfaat bagi perbaikan
kondisi penderita ikterus.
Karena penjemuran yang dilakukan,
berdasarkan atura aturan dari teori-teori yang
pernah ada akan menimbulkan efek positif bagi
penderita ikterus neonatorum fisiologis, yaitu
dengan menurunkan nilai rerata tanda ikterus.
Kegiatan menjemur bayi ini tetap
dilanjutkan,terutama dengan cara-cara yang
benar, pada akhirnya akan terjadi kesembuhan
pada penderita tersebut, dengan semakin
berkurangnya tanda ikterus dan level bilirubin
bebas dalam darah, sehingga ada akhirnya
nanti kadar bilirubin bebas dalam darah tetap
berada dalam batas normal dan warna kuning
yang tampak pada kulit mapun selaput mukosa
lain akan hilangpenjemuran maksimal
dilakukan selama 30 menit, sedangkan apabila
penelitian dilanjutkan keesokan harinya, maka
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 42 |
faktor lain di luar sinar matahari akan banyak
berpengaruh, seperti nutrisi. Air susu ibu atau
makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI)
dan proses pematangan hepar bayi.
Pengaruh sinar matahari pagi terhadap
tanda ikterus berdasarkan lamanya waktu
penjemuran, belum pada tingkat sel atau
molekuler agar dapat diketahui berapa jumlah
energi sinar matahari yang ditangkap atau
diserap oleh bilirubin bebas di kulit bayi
ikterus. Terapi sinar matahari pagi berfungsi
untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan
bilirubin dalam darah, sehingga sinar matahari
pagi direkomendasi sebagai salah satu alternatif
untuk pencegahan ikterus neonatorum. Sinar
matahari pagi mempunyai efektifitas 6.5 kali
lebih baik dibandungkan dengan fototerapi
untuk mendegradasi bilirubin. Sinar matahari
pagi mengandung sinar hijau dan biru, salah
satu manfaat sinar biru adalah mengendalikan
kadar bilirubin serum agar tidak mencapai
kadar yang dapat menyebabkan kern ikterus
namun tidak bagus dengan kesehatan mata,
sinar hijau bermanfaat untuk memperkuat,
meningkatkan dan menumbuhkan otot,
membersihkan darah membantu membuang
benda asing dalam tubuh dan merangsang
susunan saraf pusat untuk memerintahkan
untuk defekasi
4. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Inisiasi menyusu dini dapat menurunkan
tanda ikterus fisiologis pada masa neonates
sehingga pentingnya pelaksanaan IMD oleh
tenaga kesehatan saat melakukan
pertolongan persalinan.
2. Sunbhating atau penjemuran bayi pada hari
ke pertama sampai delapan dapat
mengurangi tanda dan mencegah terjadinya
ikterus fisiologis pada masa neonates.
5. DAFTAR PUSTAKA
Fortuna DRR, Yudianti I, Mardiyanti T. (2018).
Waktu pemberian ASI dan Kejadian
Ikterus Neonatorum. Jurnal Informasi
Kesehatan Indonesia. 4(1) : 43-52
Gourley, G. R., Li, Z., Kreamer, B. L., &
Kosorok, M.(2015) A Controlled,
Randomized, Double-Blind Trial of
Prophylaxis Against Jaundice Among
Breastfed Newborns. Pediatrics; 166:2,
384-393
Herawati, Y, Indriayati, M. (2017).Pengaruh
Pemberian ASI Awal Terhadap
Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir
0-7 Hari. Midwifery Journal. 3 (1); 67-
72
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2013. Inisiasi
Menyusu Dini. IDAI | Inisiasi Menyusu
Dini. Published 26 Agustus 2013.
Kusumastuti, I. E, Dewi A P .(2016). Buku Ajar
Asuhan kebidanan Nifas.Kebumen
Leutikaprio
Lavanya KR Jaiswai A, Reddy P, Mekki
S.2011. Predictors of Significant
Joundice in late Preterm Infans. Indian
Pediatrics.49:717-720
Merkuria G. Endris M .(2015). Exclusive
RESEARCH ARTICLE
Published: 04 April 2022
DOI : 10.21070/midwiferia.v7i2.1638
Midwiferia Jurnal Kebidanan | https://midwiferia.umsida.ac.id/index.php/midwiferia April 2022 | Volume 8 | Issue 1 43 |
Breastfeeding and Associated Factor
Among Mother in debre Markos
Northwest Ethiopia : A Cross-Sectional
Study in Breast Feed.10(1): 1-7
Nunung UW, Eka S, Emmelia A.F.D.2019.
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Dengan
Kejadian Ikterus Neonatorum
Fisiologis, Nerspedia.2(1): 59-68
Pohlman Mn, Nursanti I, Anto Y.V.(2015)
hubungan Inisisasi menusu dini dengan
ikterus Neonatorum di RSUD Wates
Yogyakarta. Media Ilmu Kesehatan .
4(2) : 96-103
Rahmadhanti, IP. (2016). Hubungan Frekensi
pemberian ASI dengan Kejadian Ikterus
pada BBL 2-10 hari di BPM N Padang.
Roesli U. (2012). Panduan Inisiasi Menyusu
Dini Plus ASI Eksklusif Jakarta.
Pustaka Bunda.
World Health Organization. Guideline:
Protecting, promoting and supporting
breastfeeding in facilities providing
maternity and newborn services. 2017.
https://apps.who.int/iris/bitstream/hand
le/10665/259386/9789241550086-
eng.pdf;jsessionid=0F4E001719477FC
F74229C3C7380F881?sequence=1pen
getahuan serta wawasan dalam
melakukan penelitian selanjutnya
tentang faktor yang mempengaruhi
pemberian ASI Eksklusif selain tentang
faktor ibu. Adapun faktor lain yang
dapat dijadikan bahan penelitian antara
lain faktor bayi dan lingkungan.